
Kita dikejutkan dengan meninggalnya remaja cemerlang kebanggan bangsa, yang menguasai belasan bahasa asing sehingga mengharumkan nama Indonesia di usia belia. aporan media menyebutkan, Gayatri Wailissa (17), remaja asal Ambon yang mendunia karena keahliannya menguasai belasan bahasa asing, Kamis (23/10) sekitar pukul 19.15 WIB, meninggal dunia di Rumah Sakit Abdi Waluyo di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Gadis belia ini meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit tersebut selama empat hari. Oleh dokter yang menanganinya, Gayatri didiagnosis menderita perdarahan di otak. Orangtua Gayatri, Dedy Darwis Wailissa, mengutip keterangan dokter yang merawa anaknya, Gayatri meninggal akibat pembuluh darah di otak pecah. Agus mengatakan, sebelum dibawa ke rumah sakit, Gayatri sempat mengeluh pusing kepada teman-temannya sesaat setelah berolahraga. Kita tentu berduka mendengar kabar ini. Seorang gadis yang demikian cemerlang harus berpulang di usia begitu muda karena kejadian ini. Sebagian kita pasti penasaran, apa sebenarnya saat otak mengalami perdarahan. Apa penyebabnya dan adakah cara untuk mencegah atau menanggulanginya agar tak menjadi fatal? Perdarahan otak (brain hemorrhage) sebenarnya adalah salah satu jenis stroke. Hal ini disebabkan pecahnya pembuluh arteri di otak dan menyebabkan perdarahan lokal di jaringan sekitarnya. Perdarahan ini bisa membunuh sel-sel otak. Darah dalam bahasa Yunani adalah ‘hemo’ Jadi, ‘hemorrhage’ diartikan secara harfiah berarti "darah yang meledak”. Perdarahan otak juga disebut perdarahan serebral, perdarahan intrakranial, atau perdarahan intraserebral. Mereka menyumbang sekitar 13 persen dari kejadian stroke, demikian dilansir website kesehatan terkemuka, Webmd.com. Apa yang Terjadi Selama Perdarahan Otak? Ketika darah dari trauma (cedera) mengiritasi jaringan otak, hal ini menyebabkan pembengkakan, yang dikenal sebagai pembengkakan (edema) serebral. Darah yang menggenang berkumpul menjadi massa yang disebut hematoma. Kondisi ini meningkatkan tekanan pada jaringan otak di dekatnya, dan yang mengurangi aliran darah vital dan membunuh sel-sel otak. Perdarahan dapat terjadi di dalam otak, antara otak dan selaput yang menutupinya, antara lapisan penutup otak atau antara tengkorak dan penutup dari otak. Apa Penyebab Perdarahan di Otak? Ada beberapa faktor risiko dan penyebab perdarahan otak. Yang paling umum termasuk: • Trauma kepala. Cedera adalah penyebab paling umum dari perdarahan di otak bagi mereka yang berusia di bawah usia 50 tahun. • Tekanan darah tinggi (hipertensi). Kondisi kronis ini dapat – seiring perjalanan waktu – bisa melemahkan dinding pembuluh darah. Tekanan darah tinggi yang tidak diobati adalah penyebab dicegah utama perdarahan otak. • Aneurisma. Ini adalah pelemahan dinding pembuluh darah yang membengkak. Kondisi ini membuat pembuluh darah bisa ‘meledak’ dan menyebabkan perdarahan di otak, membuahkan yang kita kenal sebagai stroke. • Kelainan pembuluh darah. Kelemahan dalam pembuluh darah di dalam dan sekitar otak dapat hadir pada saat lahir dan didiagnosis hanya bila timbul gejala. • Amiloid angiopathy. Ini adalah kelainan dinding pembuluh darah yang kadang-kadang terjadi dengan penuaan dan tekanan darah tinggi. Hal itu dapat menyebabkan banyak perdarahan kecil tanpa diketahui sebelum menyebabkan satu perdarahan besar. • Gangguan darah atau perdarahan. Hemofilia dan anemia sel sabit, keduanya dapat berkontribusi dalam penurunan kadar trombosit darah. • Penyakit hati. Kondisi ini terkait dengan meningkatnya perdarahan pada umumnya. • Tumor otak. Bagaimana Gejala Perdarahan Otak Dapat Diketahui? Gejala-gejala perdarahan otak bervariasi, bergantung pada lokasi perdarahan, tingkat keparahan perdarahan, dan jumlah jaringan yang terkena. Nah, gejala ini dapat berkembang secara tiba-tiba atau dari waktu ke waktu. Gejala itu mungkin semakin memburuk atau tiba-tiba muncul. Ada sejumlah gejala untuk menandai perdarahan di otak. Waspadai jika merasakan satu atau beberapa gejala seperti disebutkan di bawah ini, segera pergi ke unit gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan. Gejala yang dimaksud adalah: • Sakit kepala parah tiba-tiba • Kejang tanpa riwayat kejang • Kelemahan dalam tangan atau kaki • Mual atau muntah • Menurunnya kewaspadaan disertai kelesuan • Perubahan dalam visi (penglihatan) • Rasa kesemutan atau mati rasa • Kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan • Kesulitan menelan • Sulit menulis atau membaca • Kehilangan kemampuan motorik halus, seperti getaran tangan • Kehilangan koordinasi • Kehilangan keseimbangan • Abnormalitas pengecapan, kehilangan kesadaran Namun, perlu diingat bahwa banyak dari gejala ini sering disebabkan oleh kondisi selain perdarahan otak.
Bagaimana Perdarahan Otak Diobati? Dokter akan menentukan bagian otak mana yang terpengaruh berdasarkan gejala yang ada. Dokter dapat menjalankan berbagai tes pencitraan, seperti CT scan, yang dapat mengungkapkan perdarahan internal atau akumulasi darah, atau MRI. Pemeriksaan neurologis atau tes mata, yang dapat menunjukkan pembengkakan saraf optik, juga dapat dilakukan. Pengobatan untuk perdarahan di otak tergantung pada lokasi, penyebab, dan tingkat perdarahan. Pembedahan mungkin diperlukan untuk meringankan pembengkakan dan mencegah perdarahan. Obat-obat tertentu juga dapat diresepkan. Ini termasuk obat penghilang rasa sakit, kortikosteroid, atau diuretik untuk mengurangi pembengkakan, dan antikonvulsan untuk mengontrol kejang. Dapatkah Seseorang Pulih dari Perdarahan Otak? Seberapa baik pasien menanggapi perdarahan otak tergantung pada ukuran perdarahan dan jumlah pembengkakan. Beberapa pasien bisa sembuh sepenuhnya. Kemungkinan komplikasi termasuk stroke, kehilangan fungsi otak, atau efek samping dari obat atau perawatan. Akibat fatal seperti kematian sangat mungkin, dan mungkin cepat terjadi meskipun pasien mendapatkan pengobatan medis segera.
-blue(wk)
0 komentar:
Posting Komentar